• SEKOLAH LITERASI
  • LOGO LOGO RESMI
  • gambar atas 1
  • SEKOLAH KOLABORASI
  • SEKOLAH RAMAH ANAK

Selamat Datang di Website SMP NEGERI 211 JAKARTA. Cemerlang YESS !. Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Kontak Kami


SMP NEGERI 211 JAKARTA

NPSN : 20102521

Jln. SMP 211 Srengseng Sawah, Jagaraksa, Jakarta Selatan


sekolah211@yahoo.co.id

TLP : (021) 7270204


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 454862
Pengunjung : 151450
Hari ini : 96
Hits hari ini : 175
Member Online : 0
IP : 34.204.169.230
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Merdeka Belajar Tetesan Hujan di Musim Kemarau




Merdeka Belajar Tetesan Hujan di Musim Kemarau

Hendri Sujatmiko, M.Pd.

Pembelajaran Proyek

            Kurikulum merdeka telah terdengar keras gaungnya dalam dunia pendidikan 2 tahun terakhir ini. Hingga saat ini implementasinya sangat gencar dilakukan oleh sekolah-sekolah yang mendapat predikat sekolah penggerak. Pada tahun 2021 beberapa sekolah yang terpilih telah melaksanakan kurukulum merdeka ini walaupun dengan istilah lain yaitu kurikulum prototipe. Pada tahun 2022 ini semakin banyak sekolah di seluruh wilayah Indonesia yang ikut mengimplementasikanya dengan alternatif pilihan dari pemerintah dalam hal ini Kemdikbudristek.

Kurikulum merdeka dihadirkan sebagai alternatif atas krisis pembelajaran yang dialami negeri ini yang berlangsung lama dan belum membaik dari tahun ke tahun. Skor PISA tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam 10 sampai 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum membaca dan numerasi. Hasil tes PISA 2018 juga menunjukkan adanya kesenjangan hasil belajar berbasis status ekonomi-sosial. Ditambah lagi dengan pandemi Covid-19 yang memperparah keadaan dengan hilangnya pembelajaran (learning loss) dan kesenjangan pembelajaran. Survei AKSI menunjukkan adanya ketimpangan besar antar daerah dalam hasil belajar murid. Studi tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan besar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi dalam hal kualitas belajar. Setelah pandemi, krisis belajar ini menjadi semakin parah.

Disinilah kurikulum merdeka diharapkan benar-benar hadir memulihkan keadaan dan pembelajaran. Implementasi kurikulum mulai banyak di pelajari oleh insan Pendidikan, hal ini bukan karena keterpaksaan atas dampak kebijakan Menteri Kemdibudristek Bapak Nadiem Makrim untuk menerapkan kurikulum baru, namun tawaran tetesan air penawar dahaga yang dirasakan oleh seluruh aktifis pendidikan beberapa tahun belakangan. Kondisi Pendidikan di Indonesia bagaikan mengalami kemarau berkepanjangan, mengakibatkan pendidik dan peserta didik haus, dahaga akan kemajuan pendidikan. Kurikulum Merdeka hadir bagai tetes hujan di tengah kemarau dengan berbagai tawaran keunggulanya. Ketertarikan pada tawaran kurikulum merdeka yang membangkitkan guru, kepala sekolah dan bahkan pengawas untuk lebih mengenal dan memahami kurikulum ini. Tawaran pertama, keunggulan kurikulum yang lebih sederhana dan mendalam, Fokus pada materi yang  esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar  menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan. Tawaran kedua, lebih merdeka; Guru mengajar sesuai tahap capaian dan  perkembangan peserta didik. Satuan  pendidikan memiliki wewenang untuk  mengembangkan dan mengelola kurikulum  dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan  peserta didik. Tawaran ketiga, lebih relevan dan interaktif; Pembelajaran melalui kegiatan projek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk  secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk  mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Tidak kalah penting adalah filosofi kurikulum ini didasari oleh buah pikir Ki Hajar Dewantara dimana pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuhnya peserta didik. Maksud Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada peserta didik, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Pendidikan yang berpihak pada anak dengan memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman setiap anak didik. Peserta didik ibarat benih padi dan para guru adalah petaninya. Seorang petani hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik yang menanam padi misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman padi, memberi pupuk dan air, membasmi hama yang mengganggu hidup tanaman padi. Meskipun pertumbuhan tanaman padi dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodratnya padi. Misalnya ia tak akan dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung. Selain itu, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti halnya cara memelihara tanaman kedelai atau jagung. Memang benar, ia dapat memperbaiki keadaan padi yang ditanam, bahkan ia dapat juga menghasilkan tanaman padi itu lebih besar daripada tanaman yang tidak dipelihara, tetapi mengganti kodrat padi itu tetap mustahil. Demikianlah pendidikan itu, walaupun hanya dapat ‘menuntun’, akan tetapi faedahnya bagi hidup tumbuhnya peserta didik sangatlah besar.

Saya pribadi dan beberapa teman komunitas merasa pada kurikulum ini kami pendidik benar-benar diberi kemerdekaan untuk menyusun rangkain proses pembelajaran sesuai dengan keadaan dan kebutuhan peserta didik yang kami ajar. Diverensiasi pembelajaran bisa kami dilakukan pada proses, konten dan produk melihat hasil dari asesmen yang dilakukan pada awal pembelajaran. Dengan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif diawal pembelajaran sangat membantu untuk memetakan atau mengidentifikasi peserta didik berdasarkan karakteristik minat bakatnya, kompetensi, model belajar sehingga pembelajaran dirancang benar-benar sesuai dengan krakteristik dan kondisi mereka. Peserta didik juga merasakan kemerdekaan dan kegembiraan akan hal ini, mereka merasa benar-benar diperhatikan, dihargai dan diperlakukan dengan kondisi mereka yang berbeda-beda. Jika dirasakan dan dikaji  lebih dalam lagi pendidikan benar berpihak pada peserta didik.

KKM yang membelenggu pada kurikulum sebelumnya semoga benar-benar dihilangkan pada kurikulum ini. Harapan ini bukan hanya hadir dari kalangan guru sebagai pendidik, namun juga peserta didik dan orang tuanya. Dengan hilangnya KKM akan tampak bagaimana pembelajaran yang menghargai proses dan pencapaian setiap peserta didik dalam pembelajaran. Istilah raport merah masih menjadi momok bagi para orang tua jika ada KKM dalam laporan hasil belajar.

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran juga menjadi nafas dari kurikulum merdeka yang sangat erat dengan perkembangan zaman. Perkembangan yang sangat canggih ini sangat relevan jika pembelajaranya didukung oleh teknologi, dimana peserta didik bisa lebih mudah dan praktis mendapatkan informasi dan sumber belajar. Ditambah lagi dengan kebiasaan baru mengajar saat pandemi covid-19 dimana guru terbantu oleh teknologi, yang secara sadar atau tidak meningkatkan kemampuan para guru dalam penggunaan IT. Jangan sampai kembali kepada pembelajaran konvensional, karena itu tidak mengarah kepada kemajuan.

Pembelajaran dengan pendekatan konstruksivisme di kurikulum merdeka menekankan peserta didik sebagai pelaku aktif pembelajaran. Bukan sebagai penerima informasi pasif dari gurunya. Menurut pendekatan belajar konstruktivisme ini tidak ada lagi istilah transfer of  knowlade, pengetahuan bukanlah fakta-fakta, kaidah-kaidah atau konsep untuk sekedar disampaikan lalu diingat. Memahami dalam pendekatan ini adalah menemukan atau membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pembelajaran model ini membutuhkan proses belajar yang berpihak pada peserta didik dan bermakna.

Berikutnya konsentrasi perihal karakter berupa Projek Profil Pelajar Pancasila, ini dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan Indonesia. Profil Pelajar Pancasila menjadi muatan penting dalam kurikulum merdeka.  tidak hanya untuk kebijakan pendidikan di tingkat nasional saja, akan tetapi diharapkan juga menjadi pegangan untuk para pendidik, dalam membangun karakter peserta didik di lingkungan sekolah dan pembelajaran dalam kelas. Pelajar Pancasila disini berarti pelajar sepanjang hayat yang kompeten dan memiliki karakter sesuai nilai-nilai Pancasila. Pelajar yang memiliki profil ini adalah pelajar yang terbangun utuh keenam dimensi pembentuknya yang harus dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Apabila satu dimensi ditiadakan, maka profil tersebut menjadi tidak bermakna. Keenam dimensi itu adalah: 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Peserta didik diajak untuk membuat projek dari muatan profil pelajar Pancasila sesuai dengan tingkatan fase belajarnya. Dengan projek yang dibuat dalam karya ini diharapkan Profil Pelajar Pancasila benar-benar terinternalisasi dalam diri peserta didik.

Rasa dahaga dan penasaran akan kurikulum merdeka dan implementasinya terobati oleh layanan-layanan berupa pelatihan, webinar, workshop dan lokakarya yang diselenggarakan oleh instansi-instansi pemerintah maupun swasta yang peduli akan perkembangan kurikulum dan kemajuan Pendidikan. Platform digital dan portal-portal pembelajaran daring sangat membantu dan mudah ditemui saat ini untuk memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan para pendidik. Kemdikbudristek dengan platform merdeka mengajarnya misalnya, atau Dunia Akademisi dengan beberapa program pelatihan onlinenya yang sangat mudah diakses oleh para pendidik dimana saja dan kapan saja sebagai sumber belajar.

Praktik baik yang dilakukan oleh para pendidik di seluruh wilayah Indonesia sebagai aksi nyata penarapan kurikulum merdeka di sekolahnya juga banyak dibagikan melalui media sosial seperti Youtube, facebook dan Instagram. Hal ini sangat membantu dan bermanfaat bagi rekan pendidik lain yang terkadang perlu contoh konkrit tentang pelaksanaan sebuah teori. Dengan video-video dan karya-karya yang dibagikan tersebut semakin tergambar jelas seperti apa implemenasi kurikulum terbaru ini. Semoga budaya berbagi ini terus dilakukan sehingga bisa saling memberi manfaat antara pendidik yang satu dengan yang lain walaupun berbeda komunitas bahkan wilayah.

Komunitas-komunitas pendidik sampai saat ini juga masih gencar melakukan pendalaman tentang Implementasi Kurikulum Merdeka melalui beragam agenda kegiatanya. Musyawarah Guru Matapelajaran (MGMP) misalnya, menghadirkan narasumber, melakukan diskusi, desiminasi dan agenda lain agar anggotanya tercerahkan dan bisa menerpak kurikulum merdeka dengan baik. Membahas tentang Capaian Pembelajara (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), macam-macam assesmen, hingga Projek Profil Pancasila.

Bagaimanapun perubahan kurikulum merupakan rahmat Tuhan. Dimana seluruh insan pendidikan diberi kesempatan untuk berpikir dan berupaya untuk menghadirkan kehidupan dan pendidikan yang layak bagi makhluk ciptaan-Nya yang saat ini disebut sebagai perserta didik di bumi citaan-Nya. Harapan besar agar pendidikan saat ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik, alam dan zaman dimana mereka bertumbuh dan berkembang untuk bekal mereka dimasa depan nan gemilang. Sebagai pendidik tentunya harus berprasangka baik terhadap kurikulum merdeka ini agar bisa bergerak bersinergi bersama pemerintah dan insan Pendidikan yang lain dalam rangka mensukseskan pendidikan di Indonesia dan mewujudkan tujuan Pendidikan dimana Pendidikan diselenggarakan agar setiap individu dapat menjadi manusia yang “beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas